Pupus Sudah Harapan Petani terhadap Bioetanol

Gempita upaya mendiversifikasi bahan bakar minyak dengan bahan jagung sebagai sumber bahan baku utama bioetanol kini sudah redup. Sejak ramai dibicarakan 2008, petani jagung di sentra pertanian jagung di Kabupaten Grobogan hanya sempat menikmati masa keemasan itu selama enam bulan.

jagung“Sejak akhir 2008, order permintaan jagung sudah mulai berhenti. Order berhenti setelah pihak pabrik kabarnya tidak lagi mau membeli jagung. Dampaknya, harga jagung pipilan terus anjlok di kisaran 1.000 per kilogram,” kata Maskuri, petani jagung di Desa Wirosari, Grobogan, beberapa waktu lalu.

Jatuhnya harga jagung sampai Rp 1.000 per kilogram itu membuat gundah ratusan petani jagung di Kecamatan Wirosari, Gabus, Kradenan, Toroh, Ngaringan, dan Kecamatan Tawangharjo, daerah sentra jagung yang bisa memberi sumbangan produksi lebih 250.000 ton jagung. Kegundahan itu muncul seiring petani setempat memasuki masa tanam kedua, April-Oktober 2009.

“Kebiasaan petani di sini, setelah menanam padi akan memilih menanam jagung. Jagung menjadi komoditas paling diandalkan setelah kedelai. Jagung juga cocok untuk lahan irigasi tadah hujan menjelang pergantian ke musim kemarau,” kata Maskuri.

Pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Grobogan, Edi Purwanto, di Desa Kalangan, Purwodadi, menyebutkan, moral petani memang anjlok setelah kesal turunnya permintaan kebutuhan jagung. Ketika permintaan jagung meningkat, kabarnya untuk mencukupi bahan baku bioetanol, harga jagung pipilan di tingkat petani sampai Rp 2.500 per kilogram hingga Rp 3.500 per kilogram.

Edi Purwanto mengatakan, potensi jagung di Grobogan cukup besar. Per hektar lahan bisa menghasilkan empat hingga enam ton jagung. Bila harga jagung Rp 2.000 per kilogram, petani memperoleh hasil sebesar Rp 8 juta. Itu hasil panen minimal hanya sebanyak empat ton. Menaikkan produksi panen mudah, sangat bergantung dengan jenis varietas jagung.

Edi Purwanto berharap, upaya pemerintah untuk mengembangkan bioetanol harus tetap berjalan. Bahan baku jagung sebagai bahan proses fermentasi akan terus menyerap jagung produksi petani di Grobogan. Tanpa proses industri itu, jagung masih saja jadi bahan pakan ternak yang penyerapannya pun terbatas.

Dari segi potensi lahan, Edi Purwanto mengatakan, sejak 2008 lahan tanaman jagung makin luas hingga 6.000 hektar. Lahan itu sebagian besar lahan tadah hujan yang berada di eks lahan hutan. Lahan itu bisa diperluas mencapai 10.000 hektar.

Sedianya, bila bioetanol benar-benar sudah diproduksi dan memasyarakat, produksi jagung akan diperkuat dengan kesediaan para petani yang selama ini tinggal dekat kawasan hutan. Petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan sudah siap untuk menanami lahan seluas 10.000 hektar lagi sebagai lahan penyangga produksi jagung.

“HKTI juga tidak tinggal diam, juga ikut membentuk 13 warung desa yang siap pula menampung pembelian jagung milik petani dan menyalurkan ke pabrik pengolah bioetanol. Namun, harapan itu sementara ini pupus,” kata Edi.

Petani lain di Kradenan, Thohari, juga mengeluhkan ketika harga jatuh ternyata petani tak mudah memulai tanam jagung awal bulan ini. Pasalnya, harga benih jagung pun terus melonjak.

Untuk benih jagung hibrida, tiga bulan lalu masih berkisar Rp 45.000 per kilogram, saat ini sudah naik sebesar Rp 62.000 per kilogram. Tanaman jagung satu hektar memerlukan 14-26 kilogram benih. Harga benih melonjak, pengolah bioetanol pun tidak jelas, lagi-lagi petani jadi korban.

Sumber : Kompas Edisi Cetak 24 April 2009

3 Tanggapan

  1. saya kira bioetanol cuma bisa pake ketele pohon ternyata bisa juga to pake jagung.ya klo gitu petaninya yang bertempat di daerah pegunungan(tegalan) suruh tanam ketela aja.

  2. kasihan…..petani bukan pelaku bisnis,
    akibatnya jadi korban……….pelaku bisnis kadang juga bukan petani.jadinya kurang menghargai jerih payah petani…
    tapi inilah fenomena yang harusnya menjadi pelajaran.
    tidak serta merta tiap tahun kesannya petani jadi korban
    padahal mereka juga yang tidak menggunakan strategi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: