PENERIMAAN SISWA BARU SMK PGRI KUWU 2011/2012

Siap dan mampu berkompetisi menghadapi kemajuan jaman.

Mampu bersaing di bursa kerja dalam/luar negeri

Memiliki jiwa kepemimpinan dam mampu bekerja sama

Besdisiplin tinggi, cerdas, pintar, dan bertanggung jawab.

membuka jurusan :

1. Akuntansi

2. otomotif

3. Elektro

4. Tata Busana

5. Farmasi

Informasi pendaftaran:

Gelombang I : 1 Juni – 30 Juni 2011

Gelombang II : 1 Juli – 31 Juli 2011

Syarat :

Lulusan SMP/MTS/Sederajat

Mengisi Formulir pendaftaran

Menyerahkan fotokopi STTB

Menyerahkan Pas photo 3×4 = 5 lembar

Biaya pendaftaran : Rp. 30.000

Tempat pendaftaran:

SMK PGRI KUWU

Kompleks Lapangan Olah Raga Kuwu

Kec. Kradenan, Kab. Grobogan

Telp. (0292)761897

Jembatan Dongglundung Longsor 20 Meter

Dihantam banjir beberapa waktu lalu, jembatan Sungai Gebang (Dongglundung) Dusun Pulo, Desa Kalisari, Kecamatan Kradenan, longsor sepanjang 20 meter.

Longsor tersebut telah memakan separuh badan jalan, sehingga untuk menghindari hal yang tidak diinginkan oleh warga setempat diberlakukan satu jalur untuk arus lalu lintas yang melalui lokasi tersebut,

Warga sekitar lokasi berharap ada perhatian pemerintah melalui dinas terkait untuk bisa segera memperbaiki jalan tersebut. Mengingat jika tidak segera diperbaiki dikhawatirkan longsor akan bertambah lebar.

Baca lebih lanjut

Berjudi, Anggota Dewan Grobogan Ditangkap Polisi

Edi Widarto, warga Kradenan, anggota DPRD Grobogan tertangkap jajaran Reskrim Polres Grobogan bersama empat pelaku judi dadu lainnya di kawasan hutan Bago,Kecamatan Kradenan.

Mengenai adanya anggota DPRD Grobogan yang ikut tertangkap dalam kasus perjudian tersebut, Ketua DPRD M Yaeni SH membenarkannya.

“Memang saat penangkapan kami belum tahu secara pasti mengenai hal itu.Namun setelah kami cek langsung ke Polres Grobogan, ternyata memang benar pak Edi (EdiWidar to-red) anggota Dewan termasuk dalam lima pelaku perjudian itu,” jelas Ketua DPRD Grobogan M Yaeni SH, Kamis (2/ 9).

Penangkapan limapelaku perjudian di kawasan hutan Bago, dari informasi yang diperoleh Espos, terjadi Jumat (27/8) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.

Polisi yang mendapatkan informasi dari masyarakat berhasil membekuk lima pelaku judi dadu yang dilakukan menjelang sahur tersebut termasuk mengamankan sejumlah barang bukti.

Kelima penjudi dadu yang berhasil ditangkap polisi adalah, Edi Widarto, 37, warga Kradenan, Suwito, 52, warga Tangerang, Sardi,58, Santoso,23, dan Selamet, 49 ketiganya merupakan warga Kradenan

Hanya saja polisi tak berhasil membekuk bandar judi dadu yang belakangan diketahui bernama Satir,warga Sragen. Sebab saat penggerebekan terjadi, bandar judi tersebut berhasil melarikan diri ke hutan.

“Yang kita tangkap lima pelaku perjudian dan sejumlah barang bukti seperti, karpet yang digunakan sebagai alas, lampu emergency, tiga mata dadu, dan uang tunai sebesar Rp 765.000,” ungkap Kapolres Grobogan AKBP Eko Wahyudi Krisgiono SIK Msi melalui Kasatreskrim AKP I Nyoman Widiana SH.

Saat ini lanjut Kasatreskrim, polisi masih terus mengembangkan kasus perjudian dadu ini dengan memeriksa sejumlah saksi.

Edi Widarto yang saat ini ditahan di Mapolres Grobogan adalah anggota Dewsn hasil Pileg 2009.Edy anggota DPRD dari PDI Perjuangan Daerah Pemilihan (Dapil) II yang meliputi Gabus, Kradenan, dan Pulokulon. Saat tertangkap Edi tercatat sebagai anggota Komisi C

Terpisah M Yaeni yang juga Ketua DPC PDIP saat ditanya mengenai langkah partai atas kejadian ini menyatakan, DPC PDIP menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan dilakukan Polres Grobogan

“Kita menghormati proses hukum yang dilakukan kepolisian dan partai akan mematuhi hasil proses hukum atas kasus perjudian ini dan kita serahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib,” tandas M Yaeni didampingi ketua fraksi PDIP DPRD Grobogan, Agus Siswanto S.Sos.

Sumber : Solopos

Desa Pakis (Kec.Kradenan) Masuk Program PAMSIMAS

Sebanyak 12 desa di wilayah Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah, masuk program nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) yang didanai pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swadaya masyarakat di tahun 2010 ini.

Sementara, dua desa lainnya masuk kategori replikasi. Kategori ini murni didanai pemerintah daerah dengan pelaksanaan kegiatan yang sejenis.

“Bedanya hanya masalah sumber pendanaan. Kalau program PAMSIMAS pusat merupakan sinergi kerjasama dengan Pemkab dan swadaya masyarakat. Sementara program replikasi didanai oleh Pemkab sebagai kegiatan pendamping,” kata koordinator PAMSIMAS Grobogan Ir Dodit Sushermanto didampingi fasilitator Edy Supriyadi, Rabu (11/8).

Dikatakan, 12 desa akan mengelola dana masing-masing Rp 275 juta yang sumbernya berasal APBN sebesar Rp 192,5 juta, APBD Rp 27,5 juta, dan swadaya masyarakat berbentuk uang tunai sebanyak Rp 11 juta, serta material/tenaga setara nominal Rp 44 juta. Sementara dua desa yang masuk program replikasi didanai APBD sebesar Rp 220 juta.

“Dana bantuan langsung ditransfer ke rekening LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat) yang beranggotakan lima orang dari desa terkait. LKM ini sebagai panitia realisasi kegiatan, sehingga kami bekali dengan pelatihan perencanaan fisik dan administrasi,” tambah Dodit.

Program ini kegiatannya berupa penyediaan air bersih melalui pembuatan sumur dalam di tiap desa untuk kemudian dibuat jaringan sanitasi. Setelah tahap pembangunan fisik selesai, nantinya pengelolaan akan diserahkan kepada badan pengelolaan sarana (BPS) yang beranggotakan warga desa.

“Boleh dibilang program yang dimulai sejak tahun 2008 dan berakhir di 2011 ini semacam PDAM versi desa. Dengan melibatkan pengelolaannya oleh masyarakat, maka diharapkan bantuan ini akan berkesinambungan dan bisa menjadi pendapatan desa,” tambah Edy.

12 desa yang mendapat program PAMSIMAS yaitu Ngembak  (Kedungjati), Tambakan  (Gubug), Manggar Wetan (Godong), Sulursari (Gabus), Pakis (Kradenan), Tegalsumur (Brati), Teguhan (Grobogan), Jambangan (Geyer), Randurejo (Pulokulon), Ngrandah (Toroh), Parakan dan Jetis (Karangrayung). Sementara dua desa lainya yang masuk program replikasi adalah Boloh (Toroh) dan Lemah Putih. (www.suaramerdeka.com)

7 Titik Rawan jalur mudik di Kab. Grobogan

Jalan Lurus dan Mulus Berisiko Tinggi

Hasil pengamatan Polres Grobogan, di wilayah ini terdapat tujuh titik rawan kecelakaan. Titik rawan ini sangat penting diketahui pengguna jalan, terkait pemanfaatan jalur jalan menjelang Lebaran.

TITIK rawan kecelakaan ini, secara keseluruhan terdapat di jalur barat ke timur, Tegowanu – Gubug, Harjowinangun – Pasar Godong, Rejosari – Tawangharjo, Sambirejo – Wirosari, dan Kuwu – Kradenan. Sedangkan dari Utara ke Selatan, Jatipohon – Grobogan, serta Purwodadi – Toroh.

”Kebanyakan penyebab kecelakaan terjadi karena korban melakukan pelanggaran. Dengan mengantisipasi pelangaran, maka kecelakaan dapat ditekan. Seumpama kita tekan angka pelanggaran melalui pengetatan dan peningkatan operasi, maka secara otomatis kecelakaan menurun. Karenanya kita akan galakkan operasi khususnya jelang Lebaran,” kata Kasatlantas Patmo Supriyadi didampingi Kanit Laka Satlantas Polres Grobogan Didik DS.

Patmo menggambarkan, titik rawan kecelakaan di Grobogan terletak di jalan raya yang kondisi jalannya lurus dan aspal mulus. Karena di area tersebut pengguna jalan suka memaksimalkan kecepatan kendaraannya. Laju kecepatan kendaraan cenderung tinggi karena melampiaskan kejenuhan saat melintas jalan berlubang.

”Jalur dengan kondisi jalan yang baik sering menjadi TKP kecelakaan, dibanding jalur yang jalannya bergelombang. Pasti pengendara memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, akibatnya kecelakaan tidak dapat dihindarkan,” jelas Patmo.

Meski begitu angka kecelakaan lalu lintas di wilayah kerja Satlantas Polres Grobogan menurun. Dalam kurun enam bulan terakhir dibanding semester sebelumnya sangat terlihat penurunannya.

Satlantas mendata, awal Januari sampai Juni 2010 terdapat 223 kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal, luka berat, dan luka ringan. ”Sejak Juli hingga Desember 2009 ada 312 kejadian, maka terjadi penurunan 30 persen. Kami akan terus menekan angka kecelakaan ini,” paparnya.

Pihaknya juga menyoroti rambu-rambu lalulintas yang kurang berhasil sebagai media penekan angka kecelakaan. Disfungsinya media tersebut terkait budaya masyarakat yang menganggap tidak pentingnya aturan berkendara yang benar dan aman.

Sumber : http://www.jawapos.com

Kecamatan Kradenan Bebas BAB Sembarangan pada 2012

Plan Indonesia Program Unit Grobogan bekerjasama dengan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) Kabupaten Grobogan akan mencanangkan 10 kecamatan bebas Buang Air Besar (BAB) sembarangan.

Pencanangan ini ditandai dengan penandatanganan deklarasi sepuluh kecamatan bebas BAB sembarangan oleh Wabup Icek Baskoro beserta sepuluh camat di Gedung Riptaloka Setda Grobogan.

“Dengan program ini diharapkan akan menekan angka penderita diare dan penyakit lainya yang disebabkan kurang terurusnya lingkungan sekitar masyarakat,” kata Wabup Icek Baskoro diacara yang juga dihadiri Nugroho Tri Utomo dari Direktorat Pemukiman dan Perumahan Bappenas, dan Atang Saputra dari Direktorat Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan.

Melalui program dua tahun ini, Plan Indonesia menargetkan masyarakat di 153 desa pada 10 kecamatan, yaitu Kradenan, Penawangan, Klambu, Tawangharjo, Tegowanu, Brati, Wirosari, Kedungjati, Godong, dan Karangrayung bebas BAB sembarangan. Sehingga diharapkan dapat menunjukkan perilaku hidup bersih  dan sehat.

“Target yang akan dicapai bukan membangun jamban tetapi perubahan perilaku masyarakat supaya melakukan BAB dengan benar dan sehat,” kata Eka Setiawan, WASH Program manager Plan Indonesia didampingi Program Unit Manager Plan Indonesia Grobogan, Lukas Kristian.

Sementara itu, Nugroho Tri Utomo dari Bappenas menuturkan pemerintah pusat telah mengalokasikan dana triliyunan rupiah untuk program bebas BAB sembarangan bagi 70 juta masyarakat atau 30 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Sumber :  suaramerdeka.com

Rustono, “King of Tempe” Jepang dari Grobogan

Perjalanan dalam udara dingin musim gugur ke daerah pegunungan di Katsuragawa yang terletak sekitar 30 kilometer dari Kyoto adalah perjalanan yang menyajikan keindahan alam Jepang.

Jalan menanjak berliku dihiasi pepohonan momiji yang daunnya mulai memerah cerah di sepanjang jalan. Kabut meliputi puncak-puncak gunung dan hutan pinus lalu berakhir di sebuah lembah hijau. Rumah tradisional Jepang beratap rumbia tebal masih tampak di sana-sini dengan tamannya yang khas seakan bersatu dengan alam. Itulah awal perjumpaan saya dengan Rustono (41), sang Raja Tempe, sebagaimana teman-teman Jepang menyebutnya.

Di kawasan desa yang indah inilah konotasi yang menyepelekan tempe, seperti sebutan bangsa tempe atau mental tempe, sirna. Dari sinilah tempe mulai dikenal dan merambah hampir ke seluruh Jepang. Kemasan seberat 200 gram dengan label Rusto’s Tempeh bergambar ilustrasi suasana kehidupan kampung di Jawa tersebar di berbagai toko swalayan di Jepang.

Sebuah rumah tradisional Jepang, cagar budaya yang telah berusia dua abad, adalah tempat perjanjian saya bertemu dengan Rustono. Ketika kaki mulai melangkah memasuki gerbang kayu di halaman berpagar bambu, terdengar tiupan saksofon sopran yang mendendangkan lagu ”Going Home” dari Kenny G.

Rupanya sang raja sedang asyik melantunkan lagu penuh kerinduan yang menghanyutkan itu dengan duduk santai di batu besar di tengah taman di bawah rindangnya pohon momiji, ditingkah suara gemercik sungai jernih yang membelah desa, ditemani sang istri di sampingnya.

Semangat dari kerinduan

”Kampung halaman di tanah kelahiran memang selalu mendatangkan rindu,” Rustono menjelaskan ketika ditanya tentang lagu favoritnya itu. ”Dan berdendang dengan tiupan saksofon adalah alunan suara jiwa paling dalam,” tambahnya.

Kerinduan akan tanah kelahiran di sebuah kota kecil Grobogan, nun jauh di pedalaman Jawa Tengah dengan hamparan sawah dan hutan jati, rupanya masih saja mengusik Rustono meskipun sudah 13 tahun dia menetap di Jepang.
Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.